Peluk Paling Hangat Untuk Luka Paling Berat
Penulis : Yogi sutisna
Ukuran : 14 x 21 cm
No. ISBN : 978-623-421-270-9
No. QRCBN :62-39-6334-658
Terbit : Juli 2022
Harga : Rp 130000
Sinopsis :
Kita tentu sepakat, tidak ada manusia dewasa yang tumbuh tanpa luka, luka telah menjadi bagian kehidupan yang tidak akan pernah terlepaskan, luka akan terus ada selagi manusia hidup di dunia.
Dalam perjalanan menuju dewasa, aku harus menghadapi banyak kenyata'an pahit yang membuat hidupku terasa pelik. Setelah waktunya tiba, perjalanan menuju kedewasa'an memaksa aku untuk berhadapan dengan maslah cinta dan cita-cita, kedua permasalahan tersebut adalah permasalan yang tidak bisa di sepelekan.
Coba bayangkan, jika salah satu di antara dua masalah tersebut saja mampu membuat aku terluka, lalu bagai mana jika keduanya datang secara bersama? Tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempaun, luka adalah bagian yang sangat menyakitkan.
Pertemuan yang tidak di sengaja, saling bertukar cerita dan akhirnya kami saling jatuh cinta, betahun-tahun telah hidup bersama dalam suka dan duka, akhirnya waktu yang paling di takutkan pun tiba, kekasih yang sangat aku cintai memilih pergi tanpa sebuah alasan, pergi bersama beberapa janji yang pernah dia ucapkan.
Kecewa, marah, sedih, dan semua pikiran-pikiran negatif lainnya selalu menjadi pengganggu waktu tidurku, membuat hidupku kehilangan semangat dan arah dalam melangkah. Terlalu dalam luka yang dia tancapkan dalam hati ini sehingga aku merasa telah mati rasa, tidak lagi merasa pantas untuk mencintai dan di cintai.
Ketika berada dalam fase terluka aku mencoba lebih terbuka memberikan tanggapan tentang, cinta, luka dan bagaimana menjalani hidup secara bersama.
Belum juga sembuh dari luka masalah cinta, aku juga harus menghadapi masalah baru yang menghambat cita-cita. Aku adalah anak lelaki pertama yang terlahir dari kekuraga sederhana, sejak aku kecil bapak sudah terlebih dulu di panggil oleh tuhan. Tanpa bimbingan bapak, aku bertekad untuk memiliki mimpi yang tinggi meski menyadari pekerjaan orang tua adalah bertani.
Memasuki akhir tahun perkuliahan membutuhkan banyak biaya yang harus di keluarkan. Keada'an itu benar-benar membuatku tidak bisa berpikir jernih, dengan keputusan yang tergesa-gesa aku memilih mencoba kerja di ibu kota.
Sampai di ibu kota pikiranku malah semakin berantakan, ternyata kerja di ibu kota tidak semudah yang aku bayangkan. Setiap hari aku kelelahan karna tenaga terus di kuras habis-habisan.
Setelah banyak pertimbangan, aku kembali memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Pulang pada pelukan ibu yang selalu bisa menenangkan pikiran.
Email : guepedia@gmail.com
WA di 081287602508
Happy shopping & reading
Enjoy your day, guys