Pisau Terakhir di Padang Mina


Harga : Rp.116,000

Berat : 320 Gram

Penulis : Dr. dr. Ardian Riza, SpOT., Subsp. C.O(K)., M.Kes.

Jumlah Pembelian




“Pisau Terakhir di Padang Mina”

 

Di tengah keramaian haji dan kesucian Idul Adha pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq , sebuah misteri mengguncang Madinah. Harits bin Sa’d , seorang penyembelih qurban yang dihormati, ditemukan tewas secara misterius dengan pisau qurban masih tertancap di lehernya. Tidak ada jejak pelaku, hanya satu pesan pendek di dalam kantong jubahnya: "Kamu telah menjual darah qurban untuk uang."

Penyelidikan pun dimulai.

 

Zaid Al-Kalbi , seorang penyelidik yang dikirim langsung oleh Khalifah Abu Bakar, memulai pencariannya dari pasar hewan di Mina, catatan lama di Mekkah, hingga tenda-tenda sunyi di pinggiran Madinah. Dalam perjalanannya, ia menemukan konflik internal jamaah soal siapa yang berhak menjadi penyembelih resmi, surat ancaman tanpa nama, serta kelompok rahasia yang percaya bahwa qurban adalah cara mereka untuk ‘membersihkan’ dosa-dosa dunia.

 

Setiap langkah Zaid membawa kebenaran baru, tetapi juga semakin banyak bahaya. Ia diserang di gurun, ditahan atas tuduhan palsu, dan akhirnya menerima pisau ketiga — dengan ukiran: "Ini untukmu, Zaid."

Dengan bantuan seorang anak yatim bernama Rafiq , Zaid menyusun fakta-fakta yang saling terkait: pembunuhan Harits, pencurian hewan qurban, fitnah yang menyebar, dan pengkhianatan dari dalam istana Khalifah sendiri. Ia mulai menyadari bahwa ini bukan hanya soal pembunuhan biasa, tapi sebuah konspirasi yang mencoba merusak makna qurban itu sendiri .

 

Hingga akhirnya, di hari raya Idul Adha, Zaid menghadapi kebenaran yang paling sulit: pelaku utama pembunuhan itu ternyata adalah Rafiq sendiri , putra dari musuh lama Harits, yang percaya bahwa dengan darah qurban, ia bisa membersihkan jiwa ayahnya yang telah meninggal.

 

Tapi Zaid tidak memilih balas dendam. Ia memilih qurban sejati — melepaskan, memaafkan, dan mengajarkan kembali arti ketundukan kepada Allah SWT.

 

Novel “Pisau Terakhir di Padang Mina” hadir sebagai novel fiksi sejarah bernuansa detektif , yang menyelami makna qurban dalam kedalaman spiritualitas, trauma masa lalu, dan dilema moral. Kisah ini mengajak pembaca melihat lebih dalam bahwa pengorbanan bukan hanya tentang hewan, tapi tentang hati yang rela dilepaskan demi kebenaran .

"Qurban bukan hanya pisau dan darah. Qurban adalah ketundukan. Dan kadang, bentuk ketundukan yang paling nyata adalah saat kita rela melepaskan dendam... meski kita punya alasan untuk membunuh."