Bidak Catur Kepemimpinan Jawa: Dari Filsafat Keraton hingga Politik Indonesia Kontemporer


Harga : Rp.120,000

Berat : 330 Gram

Penulis : SUPRIYANTO

Jumlah Pembelian




JUDUL BUKU      : Bidak Catur Kepemimpinan Jawa: Dari Filsafat Keraton hingga Politik Indonesia Kontemporer

PENULIS              : SUPRIYANTO

NO. QRCBN         : 62-39-7320-945

PENERBIT            : Guepedia

HARGA                 : Rp 120000

TAHUN TERBIT   : Oktober 2025

JENIS BUKU        : Buku Pembelajaran, Non Fiksi

KONDISI BUKU   : Buku Baru / Buku Original Asli, Langsung dari Penerbitnya

 

Sinopsis :

Buku Bidak Catur Kepemimpinan Jawa: Dari Filsafat Keraton hingga Politik Indonesia Kontemporer merupakan sebuah karya yang berusaha membaca ulang kepemimpinan Jawa melalui sudut pandang yang unik: metafora permainan catur. Bagi masyarakat Jawa, kepemimpinan tidak hanya sekadar urusan administratif, tetapi sebuah laku budaya yang sarat simbol, strategi, dan filosofi. Pemimpin dipandang sebagai pusat harmoni, penghubung antara manusia, alam, dan kosmos. Dari situlah konsep politik alus lahir, yaitu gaya kepemimpinan halus yang mengutamakan kesantunan, musyawarah, dan penggunaan simbol, berbeda dengan politik kasar yang frontal dan konfrontatif.

Metafora catur digunakan sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana kepemimpinan Jawa bekerja. Papan catur dianalogikan sebagai arena sosial-politik, sedangkan setiap bidak mewakili peran sosial yang berlapis: rakyat, bangsawan, pejabat, hingga raja sebagai poros utama. Seperti permainan catur yang menuntut kesabaran dan strategi jangka panjang, kepemimpinan Jawa juga bergerak melalui kalkulasi yang alus, penuh harmoni, dan sering kali tidak kasatmata. Melalui perspektif ini, pembaca diajak untuk memahami kekuasaan Jawa tidak hanya sebagai fakta sejarah, melainkan juga sebagai sistem makna dan simbol yang masih relevan hingga kini.

Buku ini disusun dalam lima bagian besar. Bagian pertama meletakkan kerangka konseptual dengan membahas filsafat dasar kepemimpinan Jawa, termasuk prinsip tepo seliro, eling lan waspada, ngeli tanpa keli, dan menang tanpo ngasorake. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan Jawa bertumpu pada harmoni, kesadaran, dan cara meraih kemenangan tanpa menimbulkan permusuhan. Bagian ini sekaligus membedakan antara politik alus dan politik kasar, yang menjadi benang merah sepanjang buku.

Bagian kedua membahas tipologi bidak dalam metafora catur serta bahasa simbol kekuasaan. Di sini dijelaskan bagaimana setiap aktor dalam struktur sosial-politik memiliki peran tersendiri, dari rakyat hingga pemimpin puncak. Bahasa simbol juga diuraikan sebagai sarana komunikasi politik khas Jawa: mulai dari ritual keraton, tata krama, hingga penggunaan benda-benda pusaka yang sarat legitimasi. Simbol bukan sekadar hiasan, tetapi sarana menjaga wibawa dan membangun kepercayaan.

Bagian ketiga membawa pembaca ke arena sejarah politik alus. Pada masa keraton, kekuasaan raja memperoleh legitimasi kosmologis sebagai wakil dewa di dunia. Kolonialisme kemudian menghadirkan tekanan yang memaksa pemimpin Jawa beradaptasi melalui strategi kolaborasi maupun resistensi. Pada era kemerdekaan, tokoh-tokoh Jawa tampil penting dalam revolusi dan pembentukan republik, sambil tetap membawa filosofi tradisional ke dalam negara modern. Masa Orde Baru menjadi puncak politik alus dalam bentuk konsolidasi kekuasaan sentralistik yang paternalistik. Namun, Reformasi mengguncang tatanan ini dengan fragmentasi politik dan meningkatnya tuntutan transparansi.

Bagian keempat menyoroti politik alus di abad ke-21. Di era digital, simbol dan strategi kepemimpinan diuji oleh keterbukaan informasi dan kecepatan komunikasi. Pemimpin Jawa harus beradaptasi dengan ruang publik virtual yang sering kali keras, sambil tetap menjaga nilai kesantunan. Buku ini juga mengangkat studi kasus kepemimpinan daerah yang masih berakar pada budaya Jawa, sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi diinterpretasikan ulang oleh generasi muda. Kritik terhadap feodalisme, stagnasi inovasi, dan pertentangan antara pelestarian serta reformasi juga dikupas dengan tajam.

Bagian kelima, penutup, menawarkan refleksi dan proyeksi masa depan. Politik alus dianggap masih memiliki relevansi di tengah globalisasi, asalkan ditafsirkan ulang secara kreatif. Nilai harmoni, kesantunan, dan spiritualitas dapat diterjemahkan dalam konteks demokrasi, profesionalisme, hingga diplomasi budaya. Buku ini memberikan rekomendasi pengembangan model kepemimpinan berakar budaya yang inklusif, adaptif, dan responsif terhadap tantangan global. Dengan demikian, kepemimpinan Jawa tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga tawaran solusi atas krisis kepemimpinan global yang sering kali kehilangan etika.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya menjembatani kajian akademis dan narasi populer. Analisisnya kaya sumber dan refleksi, tetapi bahasanya tetap mengalir, ringan, dan mudah dipahami. Buku ini juga tidak menutup mata terhadap sisi kritis tradisi, sekaligus menghadirkan imajinasi baru tentang masa depan kepemimpinan Jawa. Dengan memadukan sejarah, simbol, strategi, dan visi masa depan, Bidak Catur Kepemimpinan Jawa menjadi bacaan penting bagi akademisi, mahasiswa, praktisi politik, maupun masyarakat luas yang ingin memahami budaya kepemimpinan Nusantara dalam wajah lama dan barunya. 

www.guepedia.com

Email     : guepedia@gmail.com

WA di 081287602508

Happy shopping & reading

Enjoy your day, guys