Sejarah Indonesia tidak pernah sunyi dari gema langkah pemuda. Dari api kebangkitan nasional 1908, ikrar Sumpah Pemuda 1928, hingga bara Reformasi 1998, pemuda selalu hadir sebagai “subyek sejarah” yang menyalakan harapan di tengah kegelapan zaman. Buku ini menelusuri jejak heroik itu bukan sekadar dalam bentuk narasi kronologis, tetapi sebagai refleksi filosofis atas dialektika nurani dan kekuasaan, idealisme dan realitas, moralitas dan politik bangsa.
Melalui pendekatan akademik yang berpadu dengan kehangatan reflektif, karya ini menafsirkan perjalanan panjang gerakan pemuda sebagai perjuangan eksistensial bangsa Indonesia menuju kemerdekaan sejati — kemerdekaan yang bukan hanya membebaskan tubuh dari penjajahan, tetapi juga jiwa dari korupsi, keserakahan, dan kehilangan arah moral. Di dalamnya, termaktub pergulatan ide, darah, dan doa para pemuda yang menjadikan sejarah sebagai ladang pengorbanan dan kesadaran nasional sebagai panggilan jiwa.
Namun, penulis tidak berhenti pada romantika sejarah. Ia menggugat masa kini: apakah reformasi yang diperjuangkan dengan darah dan idealisme masih menyisakan ruang bagi nurani bangsa? Di tengah arus digitalisasi, krisis moral, dan oligarki politik yang kian menebal, pemuda ditantang untuk menemukan kembali perannya sebagai kekuatan moral, inovator kebangsaan, dan penjaga integritas negeri.
Buku ini adalah ajakan dan doa — agar generasi muda menapaki jalan panjang menuju 2045 dengan kesadaran historis, kejernihan intelektual, dan keberanian moral. Sebab hanya bangsa yang dijaga oleh nurani pemudanya yang akan mencapai kemuliaan sejati.
Menuju Indonesia Emas 2045 di bawah panji nurani pemuda bangsa.