JUDUL BUKU : Menjahit Luka dengan Benang Hujan
PENULIS : Nadhika D. Ananda
NO. QRCBN : 62-39-2482-507
PENERBIT : Guepedia
HARGA : Rp 90000
TAHUN TERBIT : Desember 2025
JENIS BUKU : Buku Novel, Fiksi
KONDISI BUKU : Buku Baru / Buku Original Asli, Langsung dari Penerbitnya
Sinopsis :
Menempatkan sebuah bengkel kecil di tepi rel sebagai pusat narasi di mana teknologi, etika, dan cinta saling bersinggungan. Cerita berpusat pada Dikoy, tukang perbaikan yang mahir merakit kembali benda-benda patah, dan Rury, rekan sekaligus kekasihnya yang berhati tegas. Mereka membangun sebuah praktik kerja yang beretika: modul-modul mesin yang dapat diperbaiki secara lokal, program pelatihan untuk komunitas pesisir, dan prinsip-prinsip transparansi yang menolak produksi massal tanpa kontrol sosial. Di balik keberhasilan teknis itu tumbuh hubungan yang lembut namun rapuh, sebuah cinta yang dirajut di antara baut, benang hujan, dan malam-malam panjang di bengkel.
Kisah bergerak dari keseharian bengkel suara palu, uap kopi, tawa murid menuju konflik yang lebih luas ketika tawaran komersial besar datang. Tawaran itu menjanjikan modal, fasilitas, dan jaringan distribusi yang bisa mengangkat bengkel dari keterbatasan ekonomi. Di sinilah perbedaan prinsip antara Dikoy dan Rury menjadi tajam: Dikoy melihat peluang untuk memperluas dampak sosial dan menolong lebih banyak orang, sementara Rury khawatir bahwa skala besar akan mengikis kebebasan teknis dan mereduksi nilai-nilai komunitas yang mereka jaga. Perdebatan itu bukan sekadar soal bisnis; ia adalah ujian moral tentang apa yang pantas dikorbankan demi kelangsungan.
Ketegangan memuncak ketika Rury memilih menolak tawaran yang mengabaikan klausul etis, sementara Dikoy terpecah antara tanggung jawab praktis dan harapannya sendiri. Keputusan Rury merenggangkan hubungan mereka; komunikasi yang dulu penuh kehangatan berubah menjadi percakapan teknis dan jarak yang semakin nyata. Dikoy, yang terbiasa merawat benda dan orang, menemukan dirinya tak mampu merawat luka yang semakin dalam. Dalam pergulatan batin itu, ia menulis surat-surat yang tak pernah dikirim, merajut kenangan seperti menata benang hujan usaha untuk memberi arti pada kehilangan yang tak terucap.
Kepergian Dikoy menjadi titik balik yang mengubah seluruh komunitas. Ia pergi tanpa pengumuman, meninggalkan surat, beberapa alat, dan panel-panel benang hujan yang kini menjadi artefak kenangan. Pencarian terhadapnya tidak menemukan jawaban pasti; ia hilang seperti kabut di pagi hari, dan kepergiannya membuka ruang refleksi yang luas: tentang batas cinta, tentang tanggung jawab individu terhadap komunitas, dan tentang bagaimana keputusan etis dapat menuntut pengorbanan pribadi. Rury menghadapi rasa bersalah dan penyesalan, Ardan dan Mira menanggung beban operasional, sementara murid-murid meneruskan praktik yang pernah diajarkan Dikoy mewariskan teknik sekaligus etika.
Novel ini menutup dengan suasana yang tidak hitam-putih: bengkel tetap hidup, karya-karya terus dibuat, dan komunitas belajar merawat bekas-bekas yang ditinggalkan. Warisan Dikoy tidak lenyap; ia hidup dalam tangan-tangan baru, dalam surat-surat yang disimpan, dan dalam panel benang hujan yang dipajang sebagai pengingat. Rury menemukan bentuk cinta yang berbeda bukan kepemilikan, melainkan tanggung jawab yang lembut sementara bengkel menjadi ruang kolektif yang menegaskan bahwa dari patah bisa lahir sesuatu yang berguna dan indah.
Email : guepedia@gmail.com
WA di 081287602508
Happy shopping & reading
Enjoy your day, guys